Pages

Jumat, 26 Oktober 2012

Asumsi dan Dimensi Perkembangan Peserta Didik


BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
            Fisik manusia adalah penampakan di permukaan : jangkung, pendek, berkulit sawo matang, berambut ikal, bermuka lonjong, berhidung mancung, berbadan tegap, bermata sipit, beralis  tebal, dan sebagainya. Dari sisi energy yang dikeluarkan, fisik manusia merupakan sosok yang paling taat menerima perintah dari otak, baik berupa “ kata hati “, bahkan yang bersifat refleks.
Sebagai manusia biasa, peserta didik itu beragam, baik secara fisik, nurani, maupun penalarannya.Kemampuan mereka berkembang pun untuk ketiga aspek itu beragam adanya.Keragaman itu haus dipandang sebagai lumrah dan layanan pendidikan untuk melakukan penguatan.Peserta didik yang “kurang bernurani” (pengganggu, sering bolos, culas, pembobong, tidak jujur, tidak ada perhatian, dan lain-lain) menginspirasi layanan pendidikan agar mereka kembali ke koridor pribadi sejati dan memupuknya menuju kesejatian sebagai manusia.
1.2Perumusan Masalah
1.2.1        Asumsi dan Dimensi Perkembangan Peserta Didik
A.  Tridimensi Peserta Didik
B.  Dimensi Sosial Peserta Didik
C.  Dimensi Spiritual dan Intelektual Peserta Didik
D.  Asumsi-asumsi dan Perkembangan Peserta Didik
1.2.2        Multidimensi Perkembangan Peserta Didik
A.  Energi dan Kreatifitas Peserta Didik
B.  Lima dimensi Perkembangan Peserta Didik
C.  Anatomi perkembangan Peserta Didik
D.  Perkembangan Fisik Peserta Didik
E.   Kapasitas Otak Peserta Didik

1.3         Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dalam penyusunan makalah ini yaitu:
1.     Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah perkembangan peserta didik.
2.     Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai teori perkembangan peserta didik.
3.      Agar mahasiswa/i dapat mengaplikasikannya.

1.4         Manfaat Makalah
1.4.1        Manfaat secara umum
Manfaat yang diperoleh setelah membaca dan menganalisis  mengenai asumsi dan dimensi perkembangan peserta didik diantaranya kita dapat mengetahui beberapa perkembangan peserta didik seperti dimensi sosial, sepiritual serta intelektual peserta didik. Adapun multidimensi perkembangan peserta didik meliputi perkembangan fisik, anatomi, kapasitas otak, kesadaran serta enegi dan kreativitas peserta didik.

1.4.2        Manfaat secara khusus
Setelah kami mempelajari dan menganalisis mengenai asumsi dan dimensi peserta didik kami dapat mengetahui beberapa sifat dan pekembangan peserta didik dari segi perkembangan mental, sosial, sepiritual serta intelektual yang ada pada peserta didik.Seperti halnya multidimensi perkembangan peserta didik, kita juga dapat mengetahui tentang bagaimana kapasitas otak, fisik, kesadaran serta kreativitas yang terdapat pada prilaku peserta didik.





BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Asumsi dan Dimensi Perkembangan Peserta Didik
A .    Tridimensi Peserta Didik
            Hampir semua referensi kependidikan selalu mengawali pembahasan dengan mengedepankan esensi manusia, yang dalam konteks sekolah disebut peserta didik. Ketika itu pula mncul pertanyaan mengenai apa esensi manusia? Pertanyaan ini agaknya paling sulit menemukan jawabannya.Dari sisi pandang positif, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia, berakal berbudi, insan beradab, paling potensial untuk berkembang, dan sebagainya. Dari sisi pandang negative, kita pun melihat realitas bahwa sebagian manusia merupakan makhluk paling rakus, pengguna teknologi yang kejam, penguras sumberdaya alam yang tamak, pebisnis yang curang, dan sebagainnya. Tugas pendidikan adalah mengoptimasi potensi peserta didik dari negative ke positive. Serta meningkatkan dan memapankan perilaku positif  itu.
            Dengan mengikuti pemikiran filsuf kuno, Ban Van Rijken (2009) berpendapat bahwa manusia, termasuk peserta didik, terdiri dari unsure atau dimensi, yaitu fisik, nurani, dan pikiran.
Fisik manusia adalah penampakan di permukaan : jangkung, pendek, berkulit sawo matang, berambut ikal, bermuka lonjong, berhidung mancung, berbadan tegap, bermata sipit, beralis  tebal, dan sebagainya. Dari sisi energy yang dikeluarkan, fisik manusia merupakan sosok yang paling taat menerima perintah dari otak, baik berupa “ kata hati “, bahkan yang bersifat refleks.
            Jadi, fisik sesungguhnya merupakan instrument bagi pembantuan atas sesuatu yang lain. Bantuan untuk kata hati atau pikiran. Sehebat, seganteng, dan secantik apa pun fisik seseorang, dia nyaris selalu diperalat oleh kata hati dan pikiran. Sebalikya, karena kata hati dan pikiran itu pula, fisik manusia menerima perilaku pemanjaan yang luar biasa, karena ia merupakan penampakan ketika berada dalam konteks social. Adakalanya fisik bekerja sampai lelah, sebaliknya dimanja luar biasa dengan parfum, lipstick, pelindung, dan lain-lain.
Nurani atau “nalar hati” juga dapat dipandang sebagai bantuan sebagai bantuan bagi  keinginan seseorang. Nalar semacam ini sering kali diidentikkan dengan perasaan pribadi, seperti empati, simpati, bahkan mungkin antipati. Nalar hati esensinya baik bagi seseorang meski tidak selalu sama tafsirkannya secara sosial. Frasa “ gunakan hati nurani”, konotasinya baik, meski seringkali sangat subjektif. Sebaliknya,  frasa “berhati busuk”, selalu jelek maknanya bagi pihak ketiga, meski bagi seseorang “pelaku” yang diberi label semacam itu sangat mungkin maksudnya baik dari sisi pandang dirinya.
Pikiran atau nalar otak juga dapat dipandang sebagai bantuan bagi keinginan seseorang atau peserta didik.Nalar otak biasanya berupa kesadaran menggunakan pikiran, meski kadang-kadang tidak harmonis dengan nalar hati.Idealnya nalar otak itu harmonis dengan latar hati, meski dalam konteks pribadi, sosial, ekonomi, dan cultural saja tidak sejalan.Perpaduan yang harmonis antara nalar hati dan nalar otak melahirkan kesadaran, harga diri, integritas, atau jati diri.Kedudukannya lebih penting daripada pemikiran dan nurani yang berjalan sendiri-sendiri.Kombinasi yang harmonis antara dimensi fisik, nurani, dan pikiran itulah yang menjadi esensi manusia.Karenanya, esensi manusia lebih dari sekedar unsur-unsur fisik, nurani, dan pikiran yang berjalan sendiri-sendiri. Fisik memililiki nilai lebih hanya dalam takaran komparansi fisikal, nurani memiliki nilai lebih dalam komparansi sifat-sifat kemanusiaan , dan pikiran memiliki nilai lebih dalam komparansi penalaran tingkat tinggi.
Sebagai manusia biasa, peserta didik itu beragam, baik secara fisik, nurani, maupun penalarannya.Kemampuan mereka berkembang pun untuk ketiga aspek itu beragam adanya.Keragaman itu haus dipandang sebagai lumrah dan layanan pendidikan untuk melakukan penguatan.Peserta didik yang “kurang bernurani” (pengganggu, sering bolos, culas, pembobong, tidak jujur, tidak ada perhatian, dan lain-lain) menginspirasi layanan pendidikan agar mereka kembali ke koridor pribadi sejati dan memupuknya menuju kesejatian sebagai manusia.
Peserta didik yang nalar intelektualnya lebih dibandingkan dengan yang lain menginspirasi layanan pendidikan untuk mengaktivasinya dalam rangka bimbingan sejawat. Peserta didik yang tingkat penalarannya kurang, menginspirasi layanan pendidikan menjadi lebih intensif, penyediaan program remedial, bimbingan khusus, dan sebagainya.Jadi, keragaman peserta didik secara fisik, nurani, dan pikiran menginspirasi aneka jenis layanan pendidikan dan pembelajaran kepada mereka.Kelemahan yang ada pada diri peserta didik tidak untuk mendiskriminasikannya, melainkan sebagai inspirator bagi munculnya aneka layanan pendidikan dan pembelajaran.
B.  Dimensi Sosial Peserta Didik
Peserta didik, seperti halnya manusia pada umumnya, dengan cirri dasar memiliki kemampuan untuk berkembang, menalar abstrak, berbahasa dan berkomunikasi, melakukan introspeksi, merefleksi, dan memecahkan masalah.Mereka umumnya memiliki kemapuan mental tingkat tinggi dikombinasikan struktur tubuh yang membebaskan gerakan kaki dan tangan.Kombinasi keduanya membuat mereka dapat memanipulasi obyek jauh lebih besar daripada kemampuan spesies lainnya.Pada kalangan peserta didik terdapat keragaman kemampuan atau potensi dasar pengembangan, mulai dari yang lamban, moderat, hingga luar biasa.
            Pada sisi lain, peserta didik merupakan makhluk sosial yang unik dibandingkan dengan primata lainnya, seperti kemampuan memanfaatkan system komunikasi untuk mengekspresikan diri, mengadopsi budaya. Beretika, bertukar ide, dan mengorganisasikan diri.Di sekolah dan di masyarakat, mereka merupakan bagian dari struktur sosial yang kompleks, yang memungkinkannya terlibat dalam kerjasama dan persaingan, sekaligus mengembangkan norma-norma sosial, spiritual, serta bersama-sama membentuk dasar-dasar kehidupan masyarakat pada umumnya.
            Peserta didik memiliki keinginan untuk memahami dan menerima pengaruh lingkungan mereka, berusaha menjelaskan dan memanipulasi fenomena alam melalui ilmu pengetahuan, penalaran, percobaan, bahkan juga dengan filsafat, serta mitologi dan agama. Rasa ingin tau, baik alami maupun direncanakan, akan mendorong peserta didik menjadi manusia masa depan yang mampu menciptakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan tekonologi, alat-alat canggih, serta keterampilan lain yang bermaslahat bagi diri sendiri dan kehidupan.
C.   Dimensi Spritual dan Intelektual Peserta Didik
Sebagai makhluk spiritual, peserta didik memiliki jiwa dan sangat pribadi.Di dalamnya terkandung sikap yang suci untuk saling mengasihi, membangun aspirasi dan harapan, serta visi.Dimensi spiritual ini merupakan nilai kemanusian sejati.Kemanusiaaan merupakan salah satu “tuan rumah” dari entitas spiritual.Ia menyediakan “kekuataan bawaan” dalam diri manusia dan alam semesta, sekaligus merupakan pusat proses pemahaman dan pertumbuhan. Dengan nilai-nilai spiritual itu pun peserta didik akan dapat mengenal dirinya sendiri. Kita memang belum banyak memahami dan mengeksplorasi tentang cara kerja pikiran manusia sebagai bagian dari kecerdasan reflektif diri sendiri.
Peserta didik adalah insane yang kesadran dan memiliki pusat kesadaran, berupa “diri sejati” atau “jati diri”, yang di dalamnya terkandung rasa cinta, inspirasi, kasih saying, hati nurani, bahkan iluminasi. Dimensi spiritual dan intelektual pun sesuai dengan kepentingannya menjadi alat bagi peserta didik untuk belajar, mengingat fakta, menghitung persamaan, merencanakan kegiatan, dan sebagainya.Dimensi-dimensi ini harus diaktivasi melalui layanan pendidikan.Satu hal yang tidak kalah penting dalam dimensi spiritual adalah kesadaran, sesuatu yang diidentifikasi sebagai dapat menembus semua lini kehidupan.Kesadaran peserta didik adalah hubungan mereka dengan dunianya, sementara kemampuan berpikir merupakan alat membuat keputusan.
Memang, hingga kini masih bnayak orang mencoba mendefinisikan peserta didik dan hubungan interpersonal mereka dalam tafsir yang matrealistik.Hal ini dapat dipahami, karena dengan evolusi kesadaran diri, mayoritas orang tertarik pada hal-hal material, bukan menjelajahi misteri interaksi antara semangat universal dan dunia fisik. Idealnya, apa yang peserta didik inginkan dalam pembelajaran adalah pengetahuan dan kepastian baginya bahwa hal itu bermaslahat bagi kehidupan kelak.
Keinginan peserta didik mengakuisisi pengetahuan memberi preferensi bagi mereka untuk mencari bukti ilmiah, memecahkan masalah, dan berdiskusi menurut fokus substansi yang dipelajari. Peserta didik pun memiliki daya kreatif yang perkembangannya tidak selalu tunduk dengan “hukum” di luar dirinya dan tidak akan menjadi terhenti, melainkan akan terus memasuki arena yang tidak terbatas, berkembang terus dengan tingkat validitas tertentu.
Ketika peserta didik telah mencapai tingkat kesadaran ini, perkembangan bahasa mereka pun berlanjut. Perkembangan inilah yang kemudian akan mencapai hasil yang luar biasa dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ke depan. Dimensi spiritual dan penalaran ini pun akan mendorong peserta didik menjadi  reseptor sekaligus mengembangkan komunikasi sebagai akibat dari emosi dan sensasi mereka.
D. Asumsi-asumsi Perkembangan Peserta Didik
            Pemahaman mengenai “Perkembangan Peserta Didik” dan “Tugas-tugas Perkembangannya” merupakan instrumen untuk memberikan layanan kependidikan yang prima sesuai dengan tahap-tahap perkembangan mereka menurut usia atau jenjang persekolahan yang dijalaninya.
            Teoritikus kependidikan biasanya berpijak pada tiga aliran berfikir yang menjadi asumsi dasar layanan kependidikan, aspek tersebut yaitu :
1.      ketika dilahirkan anak manusia yang kemudian menjadi peserta didik di bangku sekolah diasumsikan sudah memiliki bawaan tersendiri yang berbeda dengan yang lainnya. Pemikiran ini dianut oleh aliran Nativisme atau aliran Naturalisme. Nativisme berasal dari kata nativesyang berarti kelahiran, sedangkan Naturalisme berasal dari kata Natur yang berarti alam. Asumsi dasar aliran ini adalah perkembangan anak atau peserta didik ditentukan oleh bawaannya sejak lahir. Menurut pandangan ini, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat tidak  banyak mempengaruhi perkembangan peserta didik lebih lanjut.
2.      perkembangan anak atau peserta didik  merupakan fenomena buatan dan karenanya proses pengembangan mereka harus dioptimasi. Pemikiran ini dianut oleh aliran empirisme. Empirisme  berasal dari kata empire yang bermakna pengalaman artinya perkembangan anak atau peserta didik lebih dipengaruhi lingkungan atau pengalamannya sendiri.
3.      perkembangan anak merupakan fungsi dari interaksi factor bawaan dan lingkungan. Perkembangan anak ibaratkan bibit yang baik ditanam pada tempat yg cocok. Dengan pemeliharaan yang prima, pemikiran ini dianut oleh aliran konvergensi yang berpendapat bahwa kombinasi yang kongruen antara pembawaan dan lingkungan menetukan perkembangan anak.
Dalam kerangka layanan pendidikan, ini bermakna bahwa perkembangan peserta didik akan teroptimasi, jika guru dan tenaga kependidikannya mampu memerankan fungsi pada tempat dan ruang yang sesuai. Namun demikian, kapasitas guru dan tenaga kependidikan tetap ada batas-batasnya.
2.2 Multidimensi Perkembangan Peserta Didik
A.                Energi dan Kreatifitas Peserta Didik
Teori perkembangan yang berpusat pada peserta didik harus mendasarkan diri pada gagasan bahwa kemampuan eksternal mereka merupakan cerminan dari perkembangan progresif dari kesadaran internal dan kapasitasnya.Perkembangan itu bukan hanya bersumber dari faktor eksternal atau akibat penciptaan dan penerapan alat atau instrument yang lebih baik yang bersentuhan dengan mereka.Perubahan peserta didik dari luar terjadi karena mereka pada umumnya terus berubah. Premis dasar perkembangan peserta didik adalah bahwa baik individu, masyarakat, maupun pranata lain pun yang bersentuhan dengannya terus berkembang. Peserta didik hanyalah sebagian dari ekspresi pada tingkatan yang berbeda dari proses pengembangan manusia pada umumnya.
Perkembangan dan pengembangan peserta didik terus berlanjut sejalan dengan perubahan sistem social dan kompleksitas kehidupan. Substanti dan proses interaksi mereka dengan manusia dewasa pun sangat kuat pengaruhnya. Perkembangan itu mengekspresikan energy dan kreativitas peserta didik menjadi lebih efektif untuk mencapai tujuan dan masa depan mereka kelak, terlepas dari apakah hal itu sejalan atau tidak dengan tujuan politik, ekonomi, social atau budaya yang terus berkembang.
Kecenderungan ini berlaku juga bagi perkembangan individual peserta didik. Mengikuti pemikiran Robert Macfarlane (1999) peserta didik secara individual mengembangkan hal itu dengan cara meningkatkan kapasitas melepaskan, mengatur, serta mengekspresikan energy dan kapasitasuntuk mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya. Oleh karena itu, aspirasi, emosi, dan penalaran peserta didik masih dalam proses metamorphosis. Hal ini bisa dan bisa juga tidak terkait dengan dimensi masa depan, kesejahteraan ekonomi, pengakuan social, pemahaman mental atau pencerahan spiritual.
Korespondensi antara pengembangan social dan perkembangan peserta didik secara perorangan atau kelompok bersifat sangat kuat.Karena memang, prosessosial dan individu tidak hanya serupa, melainkan selalu bersentuhan.Keduanya saling bergantung.Individu peserta didik bekembang dengan dukungan aktif dari masyarakatdan pengembangan masyarakatberjalan sesuai dengan kontribusi kreatif individu.Guru, orang tua, agen pembaru, kelompok strategi, dan sebagainya merupakan individu perintis yang berfungsi sebagai pemimpin untuk untuk memperkenalkan kegiatan baru dalam masyarakat, termasuk di dunia pendidikan dan pembelajaran.Kelompok itu mewariskan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada generasi berikutnya dan itu dapat diperoleh melalui upaya-upaya kolektif di masa lalu.
Menurut Robert Macfarlanr (1999), secara umum perkembangan masyarakat melibatkan kemajuan simultan sector fisik, social, mental, dan spiritual, serta budaya pranata dan organisasi yang ada di masyarakat. Peserta didik pun ikut terimbas dengannya.Sektor-sektor dimaksud mencangkup beberapa hal.Pertama, infrastruktur lingkungan fisik, sanitasi dan sistem transportasi.Kedua, infrastruktur social, seperti keamanan, pemerintahan, produksi pangan, perdagangan, keuangan, industry dan pendidikan.Ketiga, infrastruktur mental, media informasi, teknologi, ilmu pengetahuan, dan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya.Keempat, budaya, nilai-nilai spiritual/keyakinan dan nilai-nilai yang menentukan aspirasi dan prilaku manusia pada umumnya.
B.  Lima Dimensi Perkembangan Peserta Didik
Peserta didik mengikut alur perkembangan manusia pada umumnya.Perbedaannya, mereka menerima sentuhan lebih dibandingkan dengan tidak meniti bangku sekolah.Karena itu, peserta didik memerlukan pengembangan sesuai dengan keterampilan, sikap, perilaku, pengetahuan, dan nilai-nilai pribadi anggota masyarakat. Dalam makna luas, perkembangan peserta didik mencangkup lima ranah, yang secara ringkas disajikan seperti berikut ini.
1.      Perkembangan Fisik, Dimana lajunya relative sesuai dengan faktor genetis, menu makanan, pelatihan yang diperoleh, kebiasaan hidup, dan kondisi lingkungan. Penampakan fisik bisa berubah. Misalnya, meski ketika dilahirkan seorang anak berwarna kulit putih, dia akan menghitam jika hidupnya didaerah pantaidan kesehariannya berjemur di bawah terik matahari. Anak-anak yang pekerjaan tambahannya di luar sekolah banyak melakukan aktifitas fisik, kondisi ototnya lebih kekardibandingkan dengan anak seusia mereka yang tidak melakukan aktifitas sejenis. Anak-anak yang suka bergurau dan mengumbar senyum menampakkan wajah yang lebih bersinar dibandingkan dengan yang pendiam dan cenderung melankolis
2.      Perkembangan Social, Dimana anak dapat berkembang sesuai dengan bentukan masyarakat. Misalnya, anak atau peserta didik akan menjadi lebih pilitis, berorientasi ekonomis, dinamis, memiliki disiplin dan bertakwa, memiliki daya suai dsb. Hal ini dibutuhkan untuk bisa hidup dan bekerja dengan orang lain, termasuk dalam urusan-urusan yang bersifat kolektif. Misalnya, keterampilan social untuk berkomunikasi, bekerja sama, negosiasi, keterampilan kepemimpinan, keterampilan khusus untuk pembagi kerja, mengembangkan sistem untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan kegiatan kelompok, nilai-nilai social untuk kerja sama, kesopanan, serta toleransi untuk orang-orang. Termasuk penyesuaian atas perilaku dan adat istiadat yang berbeda, menghormatihukum dan ketertiban.
3.      Perkembangan Mental, Dimana peserta didik tumbuh makin bermental stabil arif, dewasa dan bijaksana. Sebagai bagian dari masyarakat peserta didik menjadi lebih canggih dalam aplikasinya ilmu pengetahuan dan teknologi. Karenanya, mereka harus memiliki keterampilanmental dalam menganalisis, menulis, menguasai matematika, sikap mental terbuka untuk gagasan-gagasan baru, kesediaan menyambut perubahan dan mencoba hal-hal baru, serta menyerap informasi tentang beberapa fakta setiap aspek kehidupan. Termasuk memahami dan patuh pada undang-undang, peraturan, adat istiadat, penggunaan dan operasi jenis peralatan yang lebih canggih, pengetahuan konseptual bidang fisik biologis dan ilmu social, serta nilai objektivitas dan integrasi.
4.      Perkembangan Budaya, Dimana peserta didik harus menumbuhkan toleransi terhadap orang-orang dengan keyakinan yang berbeda, pengakuan hak asasi manusia, dan nilai-nilai umum. Dalam banyak referensi, dimensi budaya dan dimensi spiritual ini dipersepsi sebagai ranah yang berbeda. Oleh karena itu praksisnya seringkali bersentuhan, maka dalm konteks buku ini disajikan sebagai serumpun. Misalnya, agama atau kepercayaan yang dianut merupakan dimensi spiritual. Namun, saling menghargai dan toleransi untuk menerima perbedaan agama dan kepercayaan yang dianut mestinya tumbuh menjadi budaya hidup masyarakat yang berbaur secara lintas agama.
5.      Perkembangan Intelektual, Khusus pergeseran dari kemampuan penalaran konkrit ke abstrak, mengolah data menjadi informasi, memecahkan masalah-masalah yang rumit, serta membuat solusi atas dasar informasi yang miirip, sama atau bertentangan.
C. Anatomi dan Perkembangan Peserta Didik
Pengembangan dan perkembangan pesera didik merupakan evolusi progresif dan dimensi fisik, sosial, mental, budaya, spiritual, dan intelektual.Kelimanya tumbuh dan berkembang sebagai kesadaran dan mewujud sebagai pengorganisasian dengan kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi. Peserta didik mengatur ekspresi energi mereka pada tingkat yang berbeda dengan cara meningkatkan keterampilan, sikap, penguasaan informasi, pemahaman konseptual, dan nilai-nilai yang dianut.
          Selama proses ini berlangsung sifat kesadaran manusia berevolusi dari lebih didominasi oleh dimensi fisik menjadi lebih mengandalkan dan mementingkan dimensi dan mental, spiritual, dan intelektual. Semakin tinggi tingkat kesadaran semakin tinggi pula energi dan kapasitas yang dimiliki oleh peserta didik untuk melakukan apapun yang dihadapi dan harus dilakukannya.
Pada tatanan kehidupan masyarakat pun, kita melihat bahwa evolusi ketergantungan secara eksklusif bergeser dari sumber daya fisik ke peningkatan kekuatan organisasi, ilmu pengetahuan, dan tekhnologi, serta sumber daya mental dan spiritual. Pada diri individu peserta didik, kita melihat perkembangan yang sama dari mereka yang mengekspresikan energi nyaris secara eksklusif melalui kehidupan kerja manual yang semakin bergantung pada keterampilan sosial dan pengetahuan mental untuk meningkatkan produktivitas energi fisik mereka. Ranah pengembangan dimaksudkan diatas disajikan berikut ini.
Ranah Pengembangan                                 Perkembangan Individu
1.      Individu                                                   1. Pengorganisasian energi fisik melalui
1.      Keterampilan fisik
2.      Sosial                                                  2. Pengorganisasian energi sosial melalui                                                                              
1.      keterampilan sosial dan sikap
3.      Mental                                                 3. Pengorganisasian energi mental melalui
1.      informasi dan pemahaman konseptual
4.      Budaya dan Spiritual                           4. Pengorganisasian energi budaya dan spiritual                                          
                                                                 melalui
1.      interaksi antar orang dengan keyakinan yang berbeda dan penghargaan atas hak-hak asasi
manusia
5.      Intelektual                                            5. Pengorganisasian energi otak intelektual
                                                                              melalui
1.      skema penalaran konkrit ke abstrak,                                                                                         pemecahan masalah yang rumit, berpikir  indukif, dan deduktif

D. Dimensi Kesadaran Pesera Didik
Mengikuti logika berpikir Robert Macfarlane (1999) tentang pengembangan manusia.Peserta didik memiliki tiga pusat kesadaran yang bagian-bagiannya bisa dikembangkan.Pertama; kesadaran fisik, berupa sensasi fisik, dorongan, dan kebutuhan yang mendesak.Kedua; kesadaran mental seperti sifat gugup, dorongan psikologis, perasaan, dan emosi. Termasuk didalamnya kesadaran sendiri, kesadaran akan pengetahuan, dan kemauan atau iktikad baik. Ketiga; kesadaran spiritual atau rohani berupa intuisi berupa intuisi spiritual, kebijaksanaan, dan dorongan kekuasaan yang dalam banyak kasus belum berkembang sepenuhnya.
Kesadaran itu sebagian berada di alam sadar dan sebagian lagi di alam bawah sadar.Kesadaran fisik adalah yang “paling kasar”.Sebagian besar berupa alam bawah sadar, bertindak secara otonom dan sebagai respon atas kemauan mental.Kesadaran mental adalah kesadaran yang paling halus dan “paling sadar”.Termasuk kesadaran diri atas “sikap sadar” dan kemauan.Kesadaran spiritual hampir seluruhnya berada pada alam bawah sadar atau lebih akurat disebut supranatural.
Setiap bagian dari kesadaran itu dapat dibagi lagi menjadi dua sampai tiga sub-bagian yang mencerminkan tiga tingkat yang sama dalam setiap bagian. Karena masing-masing   berinteraksi dan dengan ekspresi perwakilan dari tiga yang lainnya. Masing-masing dari sembilan bagian dapat dikembangkan untuk berbagai tingkat dalam berbagai kombinasi dengan yang lain. Masing-masing kesadaran itu ada yang dominan, dengan keberadaan semua kombinasi.Peta kesadaran secara rinci dikemukakan oleh Rober Macfarlane (1999) seperti berikut ini.
berinteraksi dan dengan ekspresi perwakilan dari tiga yang lainnya. Masing-masing dari sembilan bagian dapat dikembangkan untuk berbagai tingkat dalam berbagai kombinasi dengan yang lain. Masing-masing kesadaran itu ada yang dominan, dengan keberadaan semua kombinasi.Peta kesadaran secara rinci dikemukakan oleh Rober Macfarlane (1999) seperti berikut ini.
E. Perkembangan Peserta Didik
Pertumbuhan dan perkembangan fisik merupakan sisi yang paling nyata dari manusia manapun, demikian juga bagi peserta didik. Menurut Catherin (2010) pengembangan fisik dimaksud antara lain mencakup perubahan dalam ukuran dan proporsi tubuh. Penampilan serta fungsi berbagai sistem tubuh.Menyertai pertumbuhan dan perkembangan terjadi juga terjadi juga perkembangan otak, penampilan, serta fungsi sebagai sistem tubuh.Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik adalah unik karena semua perubahan yang terlihat dilewati hampir setiap mereka yang normal.Pertumbuhan fisik itu merupakan hasil dari interaksi yang bersifat terus-menerus dan kompleks sebagai interaksi antara faktor keturunan dan lingkungan.
Manusia mulai berkembang sebelum mereka keluar dari rahim ibunya.Setelah pembuahan, zigot merupakan sosok fisik yang paling awal dari perkembangan manusia.Periode zigot ini berlangsung sekitar dua minggu, kemudian menjadi embrio.Periode embrio berlangsung dari minggu kedua hingga minggu kedelapan kehamilan dimulai.Embrio kemudian berubah menjadi bentuk janin. Periode janin mulai dari minggu kesembilan sampai akhir kehamilan
Bayi berkembang jauh lebih cepat daripada manusia dewasa. Tumbuh bayi tumbuh dan membesar pada tingkat paling cepat  selama dua tahun pertama. Berat badan terus menanjak selama ini.Bayi terus berkembang hingga memasuki masa kanak-kanak.
Pertumbuhan dan perkembangan ukuran tubuh yang pesat pada masa bayi mulai melambat ketika mereka memasuki fase anak usia dini. Selama masa ini anak laki-laki masih cenderung lebih besar dari anak perempuan.Meningkatnya kontrol tangan dan jari-jari mereka menyebabkan peningkatan besar dalam ketrampilan motorik halus.Menjelang akhir tahun-tahun prasekolah, anak mulai kehilangan gigi bayi mereka.
Transisi yang paling sulit dialami oleh anak secara fisik adalah ketika memasuki masa pubertas. Pubertas adalah waktu ketika tubuh anak usia sekolah berubah menjadi orang dewasa. Pertumbuhan ini diatur oleh hormon yang dipengaruhi oleh faktor genetik.Perempuan biasanya mencapai pubertas rata-rata dua tahun lebih awal daripada anak laki-laki.Bagi perempuan, struktur tubuh bagian tertentu pun cepat berubah membentuk kerangka yang makin matang.
F. Kapasitas Otak Peserta Didik
Otak merupakan organ berpikir yang berkembang melalui proses belajar dan berinteraksi dengan dunia melalui persepsi dan tindakan. Stimulasi mental meningkatkan fungsi otak anakdan hal itu benar-benar melindungi mereka dari penurunan kognitif, seperti halnya fisik.Penurunan mental pada skala yang besar biasanya disebabkan oleh penyakit, sedangkan penurunan memori atau keterampilan motorik umumnya lebih disebabkan oleh keterbatasan aktivitas dan kurangnya latihan dan stimulasi mental. Dengan kata lain, otak peserta didik harus terus dioptimasi dan digunakan atau mereka akan mengalami penurunan daya memori.
Otak manusia, termasuk peserta didik, berkembang terinspirasi oleh gerakan. Sistem saraf mampu mengkoordinasi gerakan, sehingga organisme tubuh dapat leluasa pergi mencari makanan atau aktivitas lain.
Otak manusia memiliki daya elastisitas dan plastisitas. Elastis berasal dari kata Yunani untuk “drive” atau ”penggerak“. Elastis bermakna kecenderungan dari suatu material untuk kembali kebentuk aslinya setelah meregang.Elastisitas adalah penggerak yang memberikan kekuatan dan keseimbangan –fleksibilitas, mobilitas, dan adaptabilitas.Plastis berasal dari kata Yunani yang berarti “dibentuk” atau “terbentuk”.Plastis merupakan kecenderungan otak membentuk diri sesuai dengan pengalaman. Plastisitas adalah drive mental dasar, bahwa otak manusia memberikan daya kognisi dan memori  -keluwesan, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi.
Kapasitas jaringan syaraf manusia itu luar biasa menakjubkan. Miliaran sel syaraf otak secara prima mampu mengorganisikan diri dalam menanggapi lingkungan baru –tidak peduli budaya, iklim, bahasa, atau gaya hidup. Sepanjang hidup, jaringan saraf manusia mengatur ulang dan memperkuat diri dalam merespon rangsangan dan pengalaman belajar baru. Olah pikir dan interaksi manusia dengan lingkungan merangsang sel-sel otak untuk tumbuh dan berhubungan satu sama lain.
Bagi peserta didik, latihan mental amat penting untuk fungsi otak yang lebih baik.Ketika masih memasuki kelas-kelas awal sekolah atau saat masih muda anak-anak melihat dunia tampak penuh dengan keajaiban, memancing kepenasaran, memunculkan “penemuan” yang menyenangkan, bahkan juga tantangan yang menakutkan. Ketika itu otak peserta didik sedang dalam kapasitas tinggi untuk menyerap banyak bite informasi, sekaligus mengembangkan keterampilan hidup. Ledakan ini laksana belajar dalam kerangka olimpiade otak dari keseluruhan perjalanan hidup manusia.









BAB III
PENUTUP

3.1    KESIMPULAN
Ø  Menurut pemikiran filsuf kuno, Ban Van Rijken (2009) berpendapat bahwa manusia, termasuk peserta didik, terdiri dari unsure atau dimensi, yaitu fisik, nurani, dan pikiran.
Ø  Peserta didik memiliki keinginan untuk memahami dan menerima pengaruh lingkungan mereka, berusaha menjelaskan dan memanipulasi fenomena alam melalui ilmu pengetahuan, penalaran, percobaan, bahkan juga dengan filsafat, serta mitologi dan agama. Rasa ingin tau, baik alami maupun direncanakan, akan mendorong peserta didik menjadi manusia masa depan yang mampu menciptakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan tekonologi, alat-alat canggih, serta keterampilan lain yang bermaslahat bagi diri sendiri dan kehidupan.
Ø  Dimensi spiritual dan penalaran ini pun akan mendorong peserta didik menjadi  reseptor sekaligus mengembangkan komunikasi sebagai akibat dari emosi dan sensasi mereka.
Ø  Pemahaman mengenai “Perkembangan Peserta Didik” dan “Tugas-tugas Perkembangannya” merupakan instrumen untuk memberikan layanan kependidikan yang prima sesuai dengan tahap-tahap perkembangan mereka menurut usia atau jenjang persekolahan yang dijalaninya.
Ø  Korespondensi antara pengembangan social dan perkembangan peserta didik secara perorangan atau kelompok bersifat sangat kuat. Karena memang, prosessosial dan individu tidak hanya serupa, melainkan selalu bersentuhan.
Ø  Pengembangan dan perkembangan pesera didik merupakan evolusi progresif dan dimensi fisik, sosial, mental, budaya, spiritual, dan intelektual.

DAFTAR PUSTAKA

Danin, Sudarwan. Perkembangan Peserta Didik. .2011.ALFABETA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar